:: wikimiki.org ::
| 1998 |
19981998
Peristiwa
- Kondisi ekonomi Indonesia hancur lebur, kurs rupiah dari sekitar Rp. 2000 per 1 US dollar turun menjadi Rp. 17.000 per 1 US dollar
- Ribuan mahasiswa menguasai gedung DPR-RI menuntut Presiden Suharto mundur
- Kerusuhan massa di Jakarta dan merebak kebeberapa daerah di Indonesia
- 21 Mei; Suharto menyatakan mundur dari jabatannya sebagai presiden, digantikan oleh BJ Habibie
Lahir
Wafat
- Insiden Trisakti menewaskan 4 orang mahasiswa
als:1998
ja:1998年
ko:1998년
ms:1998
simple:1998
th:พ.ศ. 2541
19981998
Peristiwa
- Kondisi ekonomi Indonesia hancur lebur, kurs rupiah dari sekitar Rp. 2000 per 1 US dollar turun menjadi Rp. 17.000 per 1 US dollar
- Ribuan mahasiswa menguasai gedung DPR-RI menuntut Presiden Suharto mundur
- Kerusuhan massa di Jakarta dan merebak kebeberapa daerah di Indonesia
- 21 Mei; Suharto menyatakan mundur dari jabatannya sebagai presiden, digantikan oleh BJ Habibie
Lahir
Wafat
- Insiden Trisakti menewaskan 4 orang mahasiswa
als:1998
ja:1998年
ko:1998년
ms:1998
simple:1998
th:พ.ศ. 2541
Suharto
Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto, (ER, EYD: Suharto), atau juga dikenal sebagai Haji Muhammad Soeharto (Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921), adalah Presiden Indonesia yang kedua setelah Soekarno
Ia mulai menjabat sejak keluarnya Supersemar yang dinilai kontroversial pada tanggal 12 Maret 1967 sebagai Pejabat Sementara Presiden, dan dipilih sebagai Presiden pada tanggal 21 Maret oleh MPRS.
Soeharto dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei tahun itu. Pengunduran diri tersebut menyusul terjadinya Kerusuhan Mei 1998.
Soeharto menikah dengan ibu Suhartini "Tien" dan dikaruniai 6 anak, yaitu Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Titiek, Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Mamiek. Nama panggilan beliau adalah "Pak Harto".
Latar belakang
Soeharto lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta. Dia bergabung dengan pasukan kolonial Belanda dan belajar di akademi militer Hindia Belanda, KNIL. Selama perang dunia II, dia menjadi komandan batalion di dalam militer yang disponsori oleh Jepang yang dikenal sebagai tentara PETA (pembela tanah air).
Setelah proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno pada 1945 pasukannya bentrok dengan Belanda dalam rangka mendirikan kembali hukum kolonialisme. Dia dikenal luas dalam militer dengan serangan tiba-tibanya yang menguasai Yogyakarta pada 1 Maret 1949 (lihat Serangan Umum 1 Maret) hanya dalam satu hari. Namun gerakan ini cenderung ditafsirkan sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia terhadap pasukan Belanda. Penggagas sebenarnya dalam serangan ini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sebagai raja Yogyakarta Gubernur Militer serta Menteri Pertahanan.
Di tahun berikutnya dia bekerja sebagai pejabat militer di Divisi Diponegoro Jawa Tengah. Pada 1959 dia dituduh terlibat kasus penyelundupan dan kasusnya hampir dibawa ke pengadilan militer oleh Kolonel Ahmad Yani. Namun atas saran Jendral Gatot Subroto saat itu, dia dibebaskan dan dipindahkan ke kampus staf komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung, Jawa Barat meskipun menurut koleganya di SESKOAD, Kolonel Hario Kecik yang akhirnya menjadi Pangdam Mulawarman, Soeharto mengalami konflik pribadi dengan Kolonel D.I. Panjaitan. Sebelumnya Letkol Soeharto menjadi komandan penumpasan pemberontakan di Makassar dibawah Komando Kolonel Alex Kawilarang dimana Soeharto mengalami konflik pribadi dengan Kawilarang akibat keteledorannya sehingga huru-hara meletus kembali ketika Kawilarang melaporkan situasi Makassar yang dianggap aman kepada Presiden Soekarno di Jakarta.
Pada 1962 dia mencapai jabatan mayor jendral dan memimpin Komando Mandala yang bertugas membebaskan Irian Barat. Selama konfrontasi Indonesia-Malaysia, Soeharto adalah seorang komandan Kostrad, yang bermarkas di Jakarta. Pada 1965, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, khususnya Angkatan Darat mengalami konflik internal, terutama akibat politik Nasakom pada saat itu sehingga digambarkan pecah menjadi dua faksi, satu sayap kiri dan satu lagi sayap kanan, dengan Soeharto berada di bagian sayap kanan.
Naik ke kekuasaan
Pada pagi hari 1 Oktober 1965, beberapa pasukan pengawal Kepresidenan, Tjakrabirawa di bawah Letnan Kolonel Untung Sutopo bersama pasukan lain menculik dan membunuh enam orang jendral. Pada peristiwa itu Jendral A.H. Nasution yang menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Hankam dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata berhasil lolos. Satu yang terselamatkan, yang tidak menjadi target dari percobaan kudeta adalah Jendral Soeharto, meski menjadi sebuah pertanyaan apakah Seoharto ini terlibat atau tidak dalam peristiwa yang dikenal sebagai G-30-S/PKI itu. Beberapa sumber mengatakan, Pasukan Tjakrabirawa yang terlibat itu menyatakan bahwa mereka mencoba menghentikan kudeta militer yang didukung oleh CIA yang direncanakan untuk menyingkirkan Presiden Soekarno dari kekuasaan pada "Hari ABRI", 5 Oktober 1965 oleh badan militer yang lebih dikenal sebagai Dewan Jenderal.
Peristiwa ini segera ditanggapi oleh Mayjen Soeharto untuk segera mengamankan Jakarta, menurut versi resmi sejarah pada masa Orde Baru, terutama setelah mendapatkan kabar bahwa Letjen Ahmad Yani, menteri Panglima Angkatan Darat tidak diketahui keberadaannya. Hal ini sebenarnya berdasarkan kebiasaan yang berlaku di Angkatan Darat bahwa bila Panglima Angkatan Darat berhalangan hadir, maka Panglima KOSTRAD yang menjalankan tugasnya. Tindakan ini diperkuat dengan turunnya Surat Perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberikan kewenangan dan mandat kepada Soeharto untuk mengambil segala tindakan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Langkah yang diambil Soeharto adalah segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sekalipun sempat ditentang Presiden Soekarno, penangkapan sejumlah menteri yang diduga terlibat G-30-S (Gerakan 30 September). Tindakan ini menurut pengamat internasional dikatakan sebagai langkah menyingkirkan Angkatan Bersenjata Indonesia yang pro-Soekarno dan pro-Komunis yang justru dialamatkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia dimana jajaran pimpinannya khususnya Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Omar Dhani yang dinilai pro Soekarno dan Komunis, dan akhirnya memaksa Soekarno untuk menyerahkan kekuasaan eksekutif. Tindakan pembersihan dari unsur-unsur komunis (PKI) membawa tindakan penghukuman mati anggota Partai Komunis di Indonesia yang menyebabkan pembunuhan sistematis sekitar 500 ribu "tersangka komunis", kebanyakan warga sipil, dan kekerasan terhadap minoritas Tionghoa Indonesia. Soeharto dikatakan menerima dukungan CIA dalam penumpasan komunis. Diplomat Amerika 25 tahun kemudian mengungkapkan bahwa mereka telah menulis daftar "operasi komunis" Indonesia dan telah menyerahkan sebanyak 5.000 nama kepada militer Indonesia. Been Huang, bekas anggota kedutaan politik AS di Jakarta mengatakan di 1990 bahwa: "Itu merupakan suatu pertolongan besar bagi Angkatan Bersenjata. Mereka mungkin membunuh banyak orang, dan saya kemungkinan memiliki banyak darah di tangan saya, tetapi tidak seburuk itu. Ada saatnya di mana anda harus memukul keras pada saat yang tepat." Howard Fenderspiel, ahli Indonesia di State Department's Bureau of Intelligence and Research di 1965: "Tidak ada yang peduli, selama mereka adalah komunis, bahwa mereka dibantai. Tidak ada yang bekerja tentangnya."1 Dia mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia dalam rangka membebaskan sumber daya di militer.
Jendral Soeharto akhirnya menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia setelah pertanggungjawaban Presiden Soekarno (NAWAKSARA) ditolak MPRS pada tahun 1967, kemudian mendirikan apa yang disebut Orde Baru.
Beberapa pengamat politik baik dalam negeri maupun luar negeri mengatakan bahwa Soeharto membersihkan parlemen dari komunis, menyingkirkan serikat buruh dan meningkatkan sensor. Dia juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Cina dan menjalin hubungan dengan negara barat dan PBB. Dia menjadi penentu dalam semua keputusan politik.
Jendral Soeharto dikatakan meningkatkan dana militer dan mendirikan dua badan intelijen - Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dan Badan Koordinasi Intelijen Nasional (Bakin). Sekitar 2 juta orang dieksekusi dalam pembersihan massal dan lebih dari 200.000 ditangkap hanya karena dicurigai terlibat dalam kudeta. Banyak komunis, tersangka komunis dan yang disebut "musuh negara" dihukum mati (meskipun beberapa hukuman ditunda sampai 1990).
Diduga bahwa daftar tersangka komunis diberikan ke tangan Soeharto oleh CIA. Sebagai tambahan, CIA melacak nama dalam daftar ini ketika rezim Soeharto mulai mencari mereka. Dukungan yang tidak dibicarakan ini dari Pemerintah Amerika Serikat untuk rezim Soeharto tetap diam sampai invasi Timor Timur, dan terus berlangsung sampai akhir 1990-an. Karena kekayaan sumber daya alamnya dan populasi konsumen yang besar, Indonesia dihargai sebagai rekan dagang Amerika Serikat dan begitu juga pengiriman senjata tetapi dipertahankan ke rezim Soeharto. Ketika Soeharto mengumjungi Washington pada 1995 pejabat administratif Clinton dikutip di New York Times mengatakan bahwa Soeharto adalah "orang seperti kita" atau "orang golongan kita".
Pada 12 Maret 1967 Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden Indonesia oleh parlemen sementara (MPRS). Pada 21 Maret dia resmi terpilih di masa lima tahun pertamanya sebagai Presiden. Dia secara langsung menunjuk 20% anggota MPR. Partai Golkar menjadi partai favorit dan satu-satunya yang diterima oleh pejabat pemerintah. Indonesia juga menjadi salah satu pendiri ASEAN.
Puncak Orde Baru
Pada masa pemerintahannya, Presiden Soeharto menetapkan pertumbuhan ekonomi sebagai pokok tugas dan tujuan pemerintah. Dia mengangkat banyak teknokrat dan ahli ekonomi yang sebelumnya bertentangan dengan Presiden Soekarno yang cenderung bersifat sosialis. Teknokrat-teknokrat yang umumnya berpendidikan barat dan liberal (Amerika Serkat) diangkat adalah lulusan Berkeley sehingga mereka lebih dikenal di dalam klik ekonomi sebagai Mafia Barkeley di kalangan Ekonomi, Industri dan Keuangan Indonesia. Pada masanya, Indonesia mendapatkan bantuan ekonomi dan keuangan dari negara-negara donor (negara-negara maju) yang tergabung dalan IGGI yang diseponsori oleh pemerintah Belanda. Namun pada tahun 1992, IGGI dihentikan oleh pemerintah Indonesia karena dianggap turut campur dalam urusan dalam negeri Indonesia, khususnya dalam kasus Timor Timur pasca Insiden Dili. Peran IGGI ini digantikan oleh lembaga donor CGI yang disponsori Perancis. Selain itu, Indonesia mendapat bantuan dari lembaga internasional lainnya yang berada dibawah PBB seperti UNICEF, UNESCO dan WHO. Namun sayangnya, kegagalan manajemen ekonomi yang bertumpu dalam sistem trickle down effect (menetes ke bawah) yang mementingkan pertumbuhan dan pengelolaan ekonomi pada segelintir kalangan serta buruknya manajemen ekonomi perdagangan industri dan keuangan (EKUIN) pemerintah, membuat Indonesia akhirnya bergantung pada donor Internasional terutama paska Krisis 1997. Dalam bidang ekonomi juga, tercatat Indonesia mengalami swasembada beras pada tahun 1984. Namun prestasi itu ternyata tidak dapat dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. Kemudian kemajuan ekonomi Indonesia saat itu dianggap sangat signifikan sehingga Indonesia sempat dimasukkan dalam negara yang mendekati negara-negara Industri Baru bersama dengan Malaysia, Filipina dan Thailand, selain Singapura, Taiwan dan Korea Selatan.
Di bidang Politik, Presiden Soeharto melakukan penyatuan partai-partai politik sehingga pada massa itu dikenal tiga partai Politik yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dalam upayanya menyederhanakan kehidupan berpolitik di Indonesia sebagai akibat dari politik masa presiden Soekarno yang menggunakan sistem multipartai yang berakibat pada jatuh bangunnya kabinet dan dianggap penyebab mandeknya pembangunan. Kemudian dikeluarkannnya UU Politik dan Asas tunggal Pancasila yang mewarnai kehidupan politik saat itu. Namun dalam perjalanannya, terjadi ketimpangan dalam kehidupan politik dimana muncullah istilah "mayoritas tunggal" dimana GOLKAR dijadikan partai utama dan mengebirikan dua parpol lainnya dalam setiap penyelenggaraan PEMILU. Berbagai ketidakpuasan muncul, namun dapat diredam oleh sistem pada masa itu.
Seiring dengan naiknya taraf pendidikan pada masa pemerintahannya karena pertumbuhan ekonomi, muncullah berbagai kritik dan ketidakpuasan atas ketimpangan ketimpangan dalam pembangunan. Kesenjangan ekonomi, sosial dan politik memunculkan kalangan yang tidak puas dan menuntut perbaikan. Kemudian pada masa pemerintahannya, tercatat muncul peristiwa kekerasan di masyarakat yang umumnya sarat kepentingan politik, selain memang karena ketidakpuasan dari masyarakat.
Beberapa catatan atas tindakan represif Orde Baru
Presiden Soeharto dinilai memulai penekanan terhadap suku Tionghoa, melarang penggunaan tulisan Tionghoa tertulis di berbagai material tertulis, dan menutup organisasi Tionghoa karena tuduhan simpati mereka terhadap komunis.
Pada 1970 Soeharto melarang protes pelajar setelah demonstrasi yang meluas melawan korupsi. Sebuah komisi menemukan bahwa korupsi sangat umum. Soeharto menyetujui hanya dua kasus dan kemudian menutup komisi tersebut. Korupsi kemudian menjadi sebuah endemik.
Dia memerintah melalui kontrol militer dan penyensoran media. Dia menguasai finansial dengan memberikan transaksi mudah dan monopoli kepada saudara-saudaranya, termasuk enam anaknya. Dia juga terus memainkan faksi berlainan di militer melawan satu sama lain, dimulai dengan mendukung kelompok Nasionalis dan kemudian mendukung unsur Islam.
Pada 1973 dia memenangkan jangka lima-tahun berikutnya melalui pemilihan "electoral college". Dan juga terpilih kembali pada 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Dia mengubah UU Pemilu dengan mengizinkan hanya tiga partai yang boleh mengikuti pemilihan, termasuk partainya sendiri, Golkar. Oleh karena itu semua partai Islam yang ada diharuskan bergabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan, sementara partai-partai non-Islam (Katolik dan Protestan) serta partai-partai nasionalis digabungkan menjadi Partai Demokrasi Indonesia.
Pada 1975, dengan persetujuan bahkan permintaan Amerika Serikat dan Australia, dia memerintahkan pasukan Indonesia untuk memasuki bekas koloni Portugal Timor Timur setelah Portugal mundur dan gerakan Fretilin memegang kuasa yang menimbulkan kekacauan di masyarakat Timor Timur Sendiri, serta kekhawatiran Amerika Serikat atas tidakan Fretilin yang menurutnya mengundang campur tangan Uni Sovyet. Kemudian pemerintahan pro integrasi dipasang oleh Indonesia meminta wilayah tersebut berintegrasi dengan Indonesia. Pada 15 Juli 1976 Timor Timur menjadi provinsi Timor Timur sampai dia dialihkan ke PBB pada 1999.
1999]
Korupsi menjadi beban berat pada 1980-an. Pada 5 Mei 1980 sebuah kelompok yang kemudian lebih dikenal dengan nama Petisi 50 menuntut kebebasan politik yang lebih besar. Kelompok ini terdiri dari anggota militer, politisi, akademik, dan mahasiswa. Media Indonesia menekan beritanya dan pemerintah mecekal penandatangannya. Setelah pada 1984 kelompok ini menuduh bahwa Soeharto menciptakan negara satu partai, beberapa pemimpinnya dipenjarakan.
Catatan hak asasi manusia Soeharto juga semakin memburuk dari tahun ke tahun. Pada 1993 Komisi HAM PBB membuat resolusi yang mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap pelanggaran hak-hak asasi manusia di Indonesia dan di Timor Timur. Presiden AS Bill Clinton mendukungnya.
Pada 1996 Soeharto berusaha menyingkirkan Megawati Soekarnoputri dari kepemimpinan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), salah satu dari tiga partai resmi. Di bulan Juni, pendukung Megawati menduduki markas besar partai tersebut. Setelah pasukan keamanan menahan mereka, kerusuhan pecah di Jakarta pada tanggal 27 Juli 1996 (peristiwa Sabtu Kelabu) yang dikenal sebagai "Peristiwa Kudatuli" (Kerusuhan Dua Tujuh Juli).
Soeharto turun tahta
Sabtu Kelabu
Pada 1997, menurut Bank Dunia, 20 sampai 30 persen dari dana pengembangan Indonesia telah disalahgunakan selama bertahun-tahun. Krisis finansial Asia di tahun yang sama tidak membawa hal bagus bagi pemerintahan Presiden Soeharto ketika ia dipaksa untuk meminta pinjaman, yang juga berarti pemeriksaan menyeluruh dan mendetail dari IMF.
Mekipun sempat menyatakan untuk tidak dicalonkan kembali sebagai Presideb pada periode 1998-2003, terutama pada acara Golongan Karya, Soeharto tetap memastikan dia terpilih kembali oleh parlemen untuk ketujuh kalinya di Maret 1998. Setelah beberapa demonstrasi, kerusuhan dan tekanan politik dan militer Presiden Soeharto mengundurkan diri 21 Mei 1998, untuk menghindari perpecahan dan meletusnya ketidakstabilan di Indonesia. Pemerintahan dilanjutkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, BJ Habibie.
Lihat pula
- Daftar Presiden Indonesia
Referensi
#Blum, William. Killing Hope: US Military and CIA Interventions Since World War II, Black Rose, 1998, pp. 193-198
#[http://www.namebase.org/kadane.html] Artikel mengenai daftar orang-orang komunis dari CIA
Pranala luar
- [http://www.time.com/time/asia/asia/magazine/1999/990524/cover1.html Artikel di TIME]
kategori:Kelahiran 1921
kategori:Presiden Indonesia
kategori:Politisi Indonesia
ja:スハルト
ms:Suharto
Baseball statisticAs with many sports, and perhaps even more so, statistics are very important to baseball. A seemingly intrinsic part of the game is the keeping of statistics on the achievements of the players.
The practice was started by Henry Chadwick in the 19th century who devised the concepts of batting average and earned run average based on his experience of cricket. Statistics have been kept for the Major Leagues since their creation.
General managers and baseball scouts study player statistics to decide what players to try to get for their team. Managers, catchers and pitchers study statistics of batters on opposing teams to figure out how best to pitch to them and position the players. Managers and batters study opposing pitchers to figure out how best to hit them. Managers often base their personnel decisions during the game on statistics, such as choosing who to put in the lineup, or which relief pitcher to bring in.
Traditionally, statistics like batting average for batters (the number of hits divided by the number of at bats) and earned run average (approximately the number of runs given up by a pitcher per nine innings) have governed the statistical world of baseball. However, the advent of sabermetrics brought an onslaught of new statistics that better gauge a player's performance and contributions to his team from year to year.
Some sabermetrics have entered the mainstream baseball statistic world. On-base plus slugging (OPS) is a somewhat complicated formula that gauges a hitter's performance better than batting average. It combines the hitter's on base percentage ([hits + walks + number of times hit by pitches] divided by [number of times at bat + walks + number of times hit by a pitch + number of sacrifice flies]) with their slugging percentage (total bases divided by at bats). Walks plus hits per inning pitched (or WHIP) gives a good representation of a pitcher's abilities; it is calculated exactly as its name suggests.
Also important are all of those statistics in certain in-game situations. For example, a certain hitter's ability to hit left-handed pitchers might cause his manager to give him more chances to face lefties. Other hitters may have a history of success against a given pitcher (or vice versa), and the manager may use this information to engineer a favourable matchup.
Comprehensive, historical baseball statistics were difficult for the average fan to access until 1951, when researcher Hy Turkin published "The Complete Encyclopedia of Baseball". In 1969, MacMillan Publishing printed its first Baseball Encyclopedia, using a computer to compile stats for the first time. "Big Mac" became the standard baseball reference until 1988, when Total Baseball was released by Warner Books, using even more sophisticated technology. (This led to discovery, and expulsion, of several players who didn't belong in the record books -- "phantom ballplayers", like Lou Proctor.)
Commonly used statistics
Most of these terms also apply to softball. Commonly used statistics with their abbreviations are explained here. The explanations below are for quick reference and do not fully or completely define the statistic; for the strict definition, see the corresponding article for each statistic.
Batting statistics
- 1B - Single - hits on which batters only reached first base safely
- 2B - Double - hits on which batters only reached second base safely
- 3B - Triple - hits on which batters only reached third base safely
- AB - At bat - Batting appearances, not including bases on balls, hit by pitch, sacrifices, interference, or obstruction
- BA - Batting average (also abbreviated AVG) - hits divided by at bats
- BB - Base on balls (also called a "walk") - times receiving four balls and advancing to first base
- BBP - Walk percentage - number of base on balls divided by plate appearances
- BB/SO - Walk-to-strikeout ratio - number of base on balls divided by number of strikeouts
- EBH - Extra base hit (Sometimes EB or XBH) - doubles plus triples plus home runs
- FC - Fielder's choice - times reaching base when a fielder chose to try for an out on another runner
- G/F - Ground ball fly ball ratio - number of ground balls divided by number of fly balls
- GIDP - Ground into Double play - number of ground balls hit that became double plays
- H - Hit - times reached base because of a batted, fair ball without error by the defense
- HBP - Hit by pitch - times touched by a pitch and awarded first base as a result
- HR - Home run - hits on which the batter successfully touched all four bases, scoring a run and batting in between one and four runs (a home run with four runs batted in – i.e. bases loaded – is a grand slam).
- LOB - Left on base - number of runners not out nor scored at the end of an innning.
- OBP - On base percentage - times reached base (H + BB + HBP + FC) divided by plate appearances
- OPS - On-base plus slugging - on-base percentage plus slugging percentage
- PA - Plate appearance - number of completed batting appearances no matter the result
- RBI - Run batted in - number of runners who scored due to a batters's action, except when batter grounded into double play or reached on an error
- SAC - Sacrifice bunt - number of times bunts advanced other runners (someitmes called sacrifice hit or SH)
- SF - Sacrifice fly - number of fly ball outs which allow another runner to score
- SLG - Slugging percentage - total bases divided by at-bats
- SO - Strike out (also abbreviated K) - number of times that strike three is taken or swung at and missed, or bunted foul
- TB - Total bases - one for each single, two for each double, three for each triple, and four for each home run
- TOB - Times on base - times reaching base as a result of hits, walks and hit by pitches
Baserunning statistics
- CS - Caught stealing - times tagged out when attempting to steal a base or when picked off
- SB - Stolen base - number of bases advanced other than on batted balls, walks, or hits by pitch.
- R - Run - times reached home base legally and safely
Pitching statistics
- AVG - Opponents batting average - hits allowed divided by at-bats faced
- BB - Base on balls (also called a "walk") - times pitching four balls, allowing runner to advance to first base
- BS - Blown save - number of times entering the game in a save situation, and being charged the run which ties the game.
- CG - Complete game - number of games where player was the only pitcher for his team
- DIPS - Defense independent pitching statistics - a measure of a pitcher's effectiveness that doesn't include balls in play
- ER - Earned run - number of runs that did not occur as a result of errors or passed balls
- ERA - Earned run average - earned runs times innings in a game (usually nine) divided by innings pitched
- GIR - Games in relief - number of games pitched where player was not the starting pitcher for his team
- GF - Games finished - number of games pitched where player was the final pitcher for his team
- GP - Games pitched - number of games in which the player pitched
- G/F - Ground ball fly ball ratio - ground balls allowed divided by fly balls allowed
- GS - Games started - number of games pitched where player was the first pitcher for his team
- H/9 - Hits per nine innings - hits allowed times nine divided by innings pitched
- HA - Hits Allowed - total hits allowed
- HB - Hit batsman - times hit a batter with pitch, allowing runner to advance to first base
- HLD (or H) - Hold - number of games entered in a save situation, left in save situation, recorded at least one out, and not having surrendered the lead
- HRA - Home runs allowed - total home runs allowed
- IBB - Intentional base on balls
- IRA - Inherited runs allowed - number of runners allowed to score who were on base when pitcher enters the game
- IP - Innings pitched - number of outs recorded while pitching divided by three
- R/9 - Runs per nine innings - number of runs allowed times nine divided by innings pitched
- SHO - Shutout - number of complete games having allowed zero runs
- SO - Strikeout (also abbreviated K) - number of batters who received strike three
- SO/9 - Strikeouts per nine innings - strikeouts times nine divided by innings pitched
- SO/BB - Strikeout-to-walk ratio - number of strikeouts divided by number of base on balls
- SV - Save - number of close games finished where the pitcher's team won
- TBF - Total batters faced - opponent's total plate appearances
- W - Win - number of games where pitcher was pitching while his team took the lead and went on to win (also related: winning percentage)
- L - Loss - number of games where pitcher was pitching while the opposing team took the lead and went on to win
- W+S - Relief wins plus saves - wins plus saves
- WHIP - Walks plus hits per inning pitched - bases on balls plus hits divided by innings pitched
- W/9 - Walks per nine innings - bases on balls times nine divided by innings pitched
See also
- List of pitches
Fielding statistics
- A - Assists - number of outs recorded on a play where a fielder touched the ball, except if such touching is the putout
- CS - Caught stealing - number of times a runner was thrown out by the catcher while attempting to advance on a pitch
- DP - Double plays - one for each double play during which the fielder recorded a putout or an assist.
- E - Errors - number of times a fielder fails to make a play he should have made with common effort, and the offense benefits as a result
- FP - Fielding percentage - total plays (chances minus errors) divided by the number of total chances
- INN - Innings - number of innings that a player is at one certain position
- PB - Passed ball - error charged to the catcher that occurs when the ball is dropped and one or more runners advance
- PO - Putout - number of times the fielder tags, forces, or appeals a runner and he is called out as a result
- RF - Range factor - ([putouts + assists] - 9)/innings played. Used to determine the amount of field that the player can cover
- SB - Stolen bases - number of times a runner advanced on the pitch without being thrown out by the catcher
- TC - Total chances - assists plus putouts plus errors
- TP - Triple play - one for each triple play during which the fielder recorded a putout or an assist
General statistics
- G - Games played - number of games where the player played, in whole or in part
- WW - "Wasn't Watching" - used by non-official scorekeepers when their attention is distracted from the game - said to have been invented by Phil Rizzuto
See also
- Triple Crown in Major League Baseball
- MLB Most Valuable Player Award winners
- Cy Young Award winners
- MLB Rookie of the Year Award winners
- Gold Glove Award winners
Other terminology
- Ball
- Strike
- Strike zone
this page is currently under construction
Category:Baseball
online blackjack Kabarety biako online spielautomaten praca za granic
|
|
|
| :: RELATED NEWS :: |
Graham Bell
Alexander Graham Bell (3 Mart, 1847 – 2 Ağustos, 1922) İskoç asıllı ABD'li bilimadamı, mucit ve sanayici. Telefonu icat eden kişi olarak tanınır. Telefonun patentini
|
Bell
Alexander Graham Bell (3 Mart, 1847 – 2 Ağustos, 1922) İskoç asıllı ABD'li bilimadamı, mucit ve sanayici. Telefonu icat eden kişi olarak tanınır. Telefonun patentini
|
Windows Media Audio
Windows Media Audio (WMA) Microsoft tarafından geliştirilen patentli sıkıştırılmış ses dosya biçimidir. Başlangıçta MP3 biçimine rakipti, ama Apple'ın iTunes Müzik Mağazası tanıtımı
|
WMA
Windows Media Audio (WMA) Microsoft tarafından geliştirilen patentli sıkıştırılmış ses dosya biçimidir. Başlangıçta MP3 biçimine rakipti, ama Apple'ın iTunes Müzik Mağazası tanıtımı
|
Ensefalit
Beyin İltihabı (Anseptik Menenjit)
Merkezi sinir sisteminin virüslerden ileri gelen hastalıklarına ansefalit adı verilir. Şiddetli baş ağrısı, ense sertliği ve ateş gibi belirtilerle başlar. Bu hastalığa kabakulak, herpes simplex, enfluenza, enfeksiyoz hepatit ve enfeksiyoz mononükleoz gibi virüsler neden olurlar. Kuduz virüsünün neden olduğu ansefalit ise öldürücüdür. Bu hastalığa, bakteriye rastlanmadığı göz önünde tutularak, cerahatli menenjitten ayırmak için aseptik menenjit adı da verilir. T
|
Rahman (din)
İslam dininde Allah'ın pek merhametli, çok rahmet sahibi olması anlamlarına gelen bir sıfat ismidir. "Çok rahmet sahibi, gayet merhametli ve sonsuz rahmeti bulunan" diye tefsir edilip açıklanabilirse de, yalnız Allah'ın özel bir ismi olduğundan dolayı tam anlamıyla tercüme edilemez. Türkçe'de onun tam karşılığı olan bir kelime yoktur. "Esirgeyici" olarak tercüme edilmesi de tam olarak doğru değildir. "Acıyan" diye tercüm
|
Rahîm
Kelime Anlamı
- Koruyan, acıyan, merhamet eden Tanrı
- Koruyarak, acıyarak, merhamet ederek Ör: "Fakat babamız hiçbir zaman bendenize rahîm davranmamıştır."- F. F. Tülbentçi
İslam Dinine Göre Rahîm
"Merhamet edici" anlamında bir isimdir. Allah'ın sıfat ismi olmayıp, Allah'tan başka varlıklara da verilebilen bir isimdir. Bu iki sıfat "Rahmet" mastarından türemiş olmakla beraber, aralarında ifade ettikleri anlam bakımından farklar vardır. Rahman ve Rahîm arasındaki bu farkları şu ş
|
Melik
Kur'an'da Allah'ın 99 isminden biri.
Kur'an'ın ilk ve son suresinde (Fatiha suresi, Nas suresi )Allah'tan Melik olarak sözedilir; yani bir müslüman için mülk sahibi, bütün eşyanın ve yaratılanların tek malikidir; bütün varlıklar üzerinde emretme, istediği gibi
|
Kuddüs (din)
Kur'an'da Allah'ın 99 ismi'nden biri.(Haşr Suresi, son ayetler) . Yeni Ahit'in Arapça çevirilerinde de yer alır. Her türlü hata, gaflet ve acizlikten uzak, eksiklikten beri, mutlak kemâl sahibi anlamına gelir.. Kur'an'da Allah'ın, sonradan olma ve hiçbir tasvir kayıtlarına sığmayan
|
Selam (din)
Kur'anda Allah'ın 99 isminden biri. Kelime, İslam sözcüğü ile aynı semantik kökten türer. Selam ismi ile Allah, her türlü eminliğin, salimliğin aslı olup, ayıptan kusurdan ve her çeşit eksikliklerden uzak olan yüce yaratıcı anlamına gelir
Esmanın geçtiği Kuran ayeti<
|
|